Jumat, 27 Maret 2015

hening

Aku adalah ceria. Gaduh adalah teman terdekatku. Aku selalu Menghadirkan gemerlap dunia bagi sekelilingku. Aku benci hening, karna hening menciptakan banyak airmata. Karna hening...... banyak memanggil para hati yang berlubang.

Namun, kini aku mendekap hening. Aku mendekap erat sesuatu yg dulu tak pernah ku inginkan. Dari hening aku belajar untuk menjadi perenung, dari hening aku belajar bahwa hening tak.berarti sunyi, bahwa hening tak berarti sepi. dan bahwa hening adalah tenang. Kau hening, tempatku bersandar, tempatku melukis diriku melalui renungan.

Aku mencintaimu..... hening.

Minggu, 22 Maret 2015

bimbang

Warnaku abu-abu, hitam namun tak gelap, putih namun keruh. Hatiku bergemuruh hebat di dalam sana, aku harus memilih jalan yg aku ambil.

Berkali-kali banyak hati yg menjadi persinggahanku, menawarkan kenyamanan namun itu semua samar, semu, tak berkepastian. Aku kira ketidak nyamanan ku menjadikan satu hati sebagai tempat pulang berikutnya adalah ulah masa laluku yg begitu melukai. Namun, hatiku mulai menjadi abu-abu, sampai aku menemukan satu titik, bahwa yg ku cari adalah cintaNya. Hatiku tak sanggup menjadikan hati lain sebagai tempat pulang karena DIA belum setuju

Ya, aku memutuskan memilih jalan baru untuk ku tapaki. Ku tinggalkan hobiku menjadikan hati lain persinggahan secara bergilir. Aku sadar, hatiku bukan turis. Sesuka hati singgah, memberikan catatan persinggahan lalu pergi. Aku sadar semua ini tak benar, aku sadar DIA marah. Dan aku tinggalkan semua itu.

Namun, mengapa disaat aku baru memulai nenapaki jalan baru itu ada satu hati yg menawarkan tempat pulang, menawarkan keteduhan. Menbuat hati ini seperti tergoyahkan. Cobaan kah? Atau memang ini adalah jawaban agar aku berhenti menjadi turis dalam hati orang lain? Dan sudah saatnya aku menjadi tuan rumah?

Tuhan, jika memang ini cobaan. Jangan biarkan hati siapapun luka, dan jika memang ini adalah jawaban. Teguhkan aku, agar menjaga rumah baruku dan menjadikannya satu satunya. seumur hidup.

Selasa, 17 Maret 2015

tentangku

Mentari siang ini sepertinya sangat ingin menunjukkan kegagahannya, aku merasakan panas dan gersang di sekitarku. Aku selalu memilih mendengarkan music agar menyejukkan hati dan suasana. Lagu itu, catatan suara yang aku terima darimu belum lama. Aku tersenyum, teringat saat aku dan kamu masih mencoba saling melengkapi, saat aku dna kamu saling mencoba menyembuhkan hati yang terluka, lebam dan hampir membeku.

ya, itu hanya sebuah kisah yang kini menjadi kenangan. kisah singkat, dan manis. namun entah, aku masih belum merasa kamu adalah obat itu, kamu adalah penawar rasa sakit itu. aku masih belum menemukan diriku tercermin utuh saat bersamamu. bukan salahmu, mungkin ini tentangku. tentangku yang masih terluka, tentangku yang tak ingin kamu ikut terluka karena aku akan menjadi psikopat bahkan pembunuh hati jika kamu masih saja berdekatan denganku.

ini tentangku, yang masih tak ingin menjadi sepasang merpati, terikat oleh janji, walaupun mampu terbang secara bebas.

ini tentangku, yang masih belum siap menaruh dan memercayakan hatiku pada satu tempat, kemudian ku kunci rapat dan ku biarkan mengendap disana agar tak ada tempat lain yg mencoba menawarkan kenyamanan pada hatiku. aku belum ingin menempatkan hatiku pada apapun, dan siapapun.

ini tentangku, yang masih menyandarkan diri pada kesendirian. aku tau, ini memang tak adil untukmu yang sepenuh hati bernyanyi agar aku tersenyum sebelum aku lenyap dalam mimpi. ini menyakitkan untukmu, yang berusaha menawarkan untuk merawat hatiku ini.

ini masih tentangku, yang enggan berteman dengan "cinta". masih tentangku, yang merasakan kekuatan bukan hanya berasal dari sebuah kata "kekasih".

Rabu, 11 Maret 2015

berpura-pura

tersenyum adalah sebuah dramaturgi yang sampai saat ini masih aku pegang erat agar mereka melihat bahwa duniaku selalu indah.

tawa dan canda, selalu ingin aku hadirkan. aku selalu ingin menjadi sebuah mentari untuk diriku sendiri, kemudian untuk banyak orang. namun, aku hanya berhasil menjadi lilin, mampu membuat segala yg disekitarku bersinar di tengah kegelapan, namun aku hangus oleh cahaya yang aku hadirkan.

mungkin benar pernyataan bahwa orang yang memiliki tawa paling keras adalah dia yang memiliki beban terberat.

tidak, aku tak mengeluh, aku tak menghujat apa yang aku alami. hanya saja, aku ingin semua kesakitan, marah, dan segala beban di hati ini lepas tak hanya saat aku berada di keramaian, namun juga saat aku bertemankan sepi dan beberapa suara kepedihan.

aku bukan tak ingin jujur mengenai apa yang aku rasakan, hanya saja...... luka ini cukup dalam dan lama mengendap di dada, menimbulkan sebuah perisai yg kuat agar tak tumpah ruah menjadi hujan airmata yang aku sendiri tak tau bagaimana menghentikan alirnya.

mungkin ini adalah cara Tuhan mencoba membuatku menjadi lebih baik dalam menerima segala kepedihan, mungkin berpura-pura bahagia adalah cara terbaik untuk saat ini. agar aku mampu menghempas segala kekangan dan masalah di dunia.

ya, berpura-puralah sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura, berbahagia.......