Warnaku abu-abu, hitam namun tak gelap, putih namun keruh. Hatiku bergemuruh hebat di dalam sana, aku harus memilih jalan yg aku ambil.
Berkali-kali banyak hati yg menjadi persinggahanku, menawarkan kenyamanan namun itu semua samar, semu, tak berkepastian. Aku kira ketidak nyamanan ku menjadikan satu hati sebagai tempat pulang berikutnya adalah ulah masa laluku yg begitu melukai. Namun, hatiku mulai menjadi abu-abu, sampai aku menemukan satu titik, bahwa yg ku cari adalah cintaNya. Hatiku tak sanggup menjadikan hati lain sebagai tempat pulang karena DIA belum setuju
Ya, aku memutuskan memilih jalan baru untuk ku tapaki. Ku tinggalkan hobiku menjadikan hati lain persinggahan secara bergilir. Aku sadar, hatiku bukan turis. Sesuka hati singgah, memberikan catatan persinggahan lalu pergi. Aku sadar semua ini tak benar, aku sadar DIA marah. Dan aku tinggalkan semua itu.
Namun, mengapa disaat aku baru memulai nenapaki jalan baru itu ada satu hati yg menawarkan tempat pulang, menawarkan keteduhan. Menbuat hati ini seperti tergoyahkan. Cobaan kah? Atau memang ini adalah jawaban agar aku berhenti menjadi turis dalam hati orang lain? Dan sudah saatnya aku menjadi tuan rumah?
Tuhan, jika memang ini cobaan. Jangan biarkan hati siapapun luka, dan jika memang ini adalah jawaban. Teguhkan aku, agar menjaga rumah baruku dan menjadikannya satu satunya. seumur hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar