Senin, 15 Juni 2015

tak inginku kembali

Senja, selalu dihiasi aktifitas yang tak jauh dr sibuk dengan sisa tenaga. Aku disini beraktifitas, bukan tenaga ku yg terkuras habis, namun hati dan fikiranku. Warna jingga itu, ku tatap begitu syahdu memancarkan sang mentari yg malu-malu memasuki singgasananya. Tenggelam, itu yg umum diucapkan. Jingga itu, memancarkan bahwa akan selalu ada indah di pengakhiran, bahwa setiap langkah kaki membawa harapan. Matahari terbenam itu, melambangkan bahwa hari ini akan menjadi kemarin, maka kuburlah dalam-dalam yg kelam, berdamailah dengan yg lalu, jadikan pembelajaran.

Aku menikmati ini, dulu aku selalu merindu yg lalu. Terbesit ingin kembali dan memperbaiki sejarah atasku. Tapi,kini tak ingin ku kembali. Aku telah banyak belajar dr setiap goresan yg aku tulis di buku sejarah tentangku. Aku tak mau melalui itu lagi, tak mau tenggelam lagi ke dalam aku yg banyak melakukan kesia-siaan. Kembali menjadi aku yg sangat gemerlap dI luar, hampa di dalam. Sejarahku membentukku untuk tak henti memohon maaf padaNya.

Aku ingin selalu melangkahkan kaki tanpa ada hasrat menengok masa lalu jika itu menghambat langkahku. Aku ingin selalu berdamai dengan masa laluku, dan menggenggam masa sekarang dan nantiku.

-aku yang dalam lirih memohon agar mantap dalam melangkah-

Sabtu, 06 Juni 2015

cinta itu Engkau

Hari ini, aku membuktikan lagi. Bahwa ada Maha Cinta hidup di alam semesta ini.
Aku terbangun saat matahari masih asyik tertidur di singgasananya, aku terbangun di waktu sepertiga malamMu. Entah alarm darimana, Aku beranjak dari tempatku bermimpi. Mempercantik diri untuk berhadapan dengan Sang Maha Cinta, Sang Pemilik diriku ini.

keningku bersatu dengan tanahNya, hatiku bergetar hebat disana. Allah, aku sadar telah banyak lalai bahkan di setiap aku sujud dan menghadapMu. Allahku Yang Agung, satu-satunya cinta tertinggi, apa Kau marah padaku? Maafkan aku, aku banyak melalaikan peringatanMu, aku banyak menyia-nyiakan waktu luangku. Masihkah aku pantas menjadi salah satu kecintaanMu?

Aku cemburu ketika ada yang lain begitu dekat denganMu, aku cemburu ketika ada yg lain begitu erat mendekapMu, tenggelam dalam lantunan kalimat cintaMu dan berlayar dalam samudra cintaMu yang bahkan lebih luas dari samudra, lebih dalam dari palung, dan lebih tinggi dari langit apapun. Allah, aku ingin pantas dicintaiMu, masih layakkah aku memohon padaMu dengan lantang agar Engkau tetap menutun dan memelukku bahkan ketika ada yg lebih dariku dalam mendekatiMu?
Jangan biarkan siapapun menggeserMu, jaga hatiku agar tetap mendekap iman dan islam ini  wahai yang Maha membolak balikkan hati.

Jumat, 05 Juni 2015

takut

Aku menikmati saat keningku menyentuh bumi, aku mencintai ketika aku merintih kepadaNya memohon petunjuk atas sebuah keputusan. Aku menikmati mengalirkan airmata dan memecah hening sepertiga malamMu dengan suara piluku.

Aku pernah sangat yakin meminta petunjuk untuk bertahan atau pergi. Namun, aku slalu siap dengan jawabanMu. Kemudian jawabannya adalah pergi. Aku pergi sesuai petunjukMu.

Kemudian, aku merintih kembali bertanya dengan intim padaMu untuk menemukan jawaban meberimaatau menolak hambaMu yang menawarkan tempat perhentian. Engkau berkata tolak, aku mantap melangkah dengan jawaban menolak.

Namun, ada apa dengan hari ini? aku memohon padaMu, memberikan jawaban atas rasa ini. Aku meminta padaMu apakah dia jawaban atas doaku? Apakah dia hambaMu yg akan berdiri di depanku dan dengan gagah memimpinku dalam berkomunikasi denganMu. Aku takut Allahku, aku takut Engkau menjawab "bukan dia", aku takut Engkau menjawab "tidak, hentikan rasamu itu hambaKu". Aku tak pernah setakut ini menunggu jawabanMu, Allahku.
Jika nanti aku menerima jawabanMu, aku hanya ingin Engkau memberikanku hati yang lapang untuk taat padaMu, hapuskan sedih ini Allahku. Karna hatiku memang kepunyaanMu.

-hambaMu-

Kamis, 04 Juni 2015

tak perlu

Tak perlu kau bertindak ceroboh hanya demi perhatian yang belum bisa menjamin bahagia untukmu.
Tak perlu kau berteriak lantang bahwa kau bahagia hanya demi menyakiti sisi yg berbeda darimu.
Tak perlu juga, kau berteriak akan kesakitanmu hanya demi memalingkan semua orang agar memerhatikanmu.

Kau hanya perlu melakukan tindakan yg berasal dari ketulusan, kau hanya perlu bersikap tanpa kata.

Jangan seperti setitik nila yang merusak susu sebelangga, jangan melakukan itu. Aku mohon.......

Tak perlu kau berbicara bahwa kau yg terbaik, karna kau tak perlu itu. Kau hanya perlu bertindak dalam senyap.

Kau perlu mengerti, segala isi hati yang tulus akan bersinar, cerah, menyilaukan namun menawarkan keteduhan disana tanpa perlu dijelaskan oleh kalimat dan ucapan yg penuh pencitraan.

Tak perlu kau begitu...... karna ketulusan hati tak pernah ingkar.