Rabu, 11 Maret 2015

berpura-pura

tersenyum adalah sebuah dramaturgi yang sampai saat ini masih aku pegang erat agar mereka melihat bahwa duniaku selalu indah.

tawa dan canda, selalu ingin aku hadirkan. aku selalu ingin menjadi sebuah mentari untuk diriku sendiri, kemudian untuk banyak orang. namun, aku hanya berhasil menjadi lilin, mampu membuat segala yg disekitarku bersinar di tengah kegelapan, namun aku hangus oleh cahaya yang aku hadirkan.

mungkin benar pernyataan bahwa orang yang memiliki tawa paling keras adalah dia yang memiliki beban terberat.

tidak, aku tak mengeluh, aku tak menghujat apa yang aku alami. hanya saja, aku ingin semua kesakitan, marah, dan segala beban di hati ini lepas tak hanya saat aku berada di keramaian, namun juga saat aku bertemankan sepi dan beberapa suara kepedihan.

aku bukan tak ingin jujur mengenai apa yang aku rasakan, hanya saja...... luka ini cukup dalam dan lama mengendap di dada, menimbulkan sebuah perisai yg kuat agar tak tumpah ruah menjadi hujan airmata yang aku sendiri tak tau bagaimana menghentikan alirnya.

mungkin ini adalah cara Tuhan mencoba membuatku menjadi lebih baik dalam menerima segala kepedihan, mungkin berpura-pura bahagia adalah cara terbaik untuk saat ini. agar aku mampu menghempas segala kekangan dan masalah di dunia.

ya, berpura-puralah sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura, berbahagia.......

2 komentar:

  1. Buka topengnya, lepaskan perisainya
    Luapkan apa yang mengendap, jujur pada diri sendiri
    Bahagia bukan ditunggu datang, tapi kita yang buat
    Kalau bisa benar-benar bahagia, mengapa harus pura-pura?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya berpura-pura memang melelahkan. Entah kapan aku siap membuka topeng "bahagia" ini. Semoga Segera.

      Hapus