Aku adalah seorang perempuan yg senang sekali bermain sosial media. Hari ini, aku membuka akun sosial mediaku yang berlambang burung. Aku banyak berkicau disana, hingga aku menscroll isi kicauan ku yg lalu
Aku berhenti pada kicauan di tanggal 9 maret 2015. Kicauan itu membuatku tersenyum, "dokter aja hijabnya syar'i, kamu kapan mi?". Aku selintas melayang kepada kondisi dI hari aku menulis kicauan itu. Disana aku terduduk di sebuah kursi, menemani malaikat tanpa sayapku yg sedang terbaring lemah di tenpat tidur kamar perawatan rumah sakit. Aku melihat seorang dokter wanita masuk, memeriksa. Aku kagum padanya, dengan lemah lembut memeriksa pasiennya dan hijab yang dikenakannya membuatku kagum sehingga aku ingin sepertinya dan ku tumpahkan hasratku kepada kicauan di sosmed.
Tepat hari ini, aku sadar bahwa setiap ucapan adalah doa. Setiap.khayalan adalah harapan. Dan setiap doa adalah sebuah permohonan yang dipertimbangkan Serius oleh Sang Pemilik Semesta. Hari ini aku belajar, bahwa ucapan, harapan, an doa harus dijaga agar tujuannya tetap baik.
Semoga aku istiqomh di jalan ini, terima kasih ibu dokter yg telah membuatku menyebut harapan yg membawaku ke jalan yg perlahan terang ini.
Senin, 25 Mei 2015
Jumat, 22 Mei 2015
masih sahabatku........
Aku terbangun dari tidurku saat adzan berkumandang lantang di sebrang sana. Dimana aku? Kamar ini tak asing, namun aku tak merasa memilikinya. Aku memalingkan wajahku ke kanan, disana ku lihat sesosok wanita yang terlelap dalam tidurnya karna semalaman berbagi cerita denganku
Aku di kamarnya...... sahabat lama yang ku kira tak dapat lagi ku dekap karna jalan kami berbeda sejak melepas seragam sekolah.
Sahabat lama yg sudah ku kenal, jauh sebelum aku menjadi seorang remaja.
Dia masih sama, masih sahabat yg tertawa dengan manis saat mendengar gurauanku yang tak lucu.
Dia masih yang dulu, bercerita dengan suara khasnya yg lembut namun kuat.
Dia....... masih sahabat kecilku, yang tak pernah menilaiku buruk karna segala tingkahku yg aneh.
Dia masih sahabat kecilku, yang bersamanya aku menemukan diriku semasa remaja masih melekat tanpa malu dengan usia.
Terima kasih Allahku, Kau masuh menjaganya untukku. Terima kasih Allahku, Kau masih memberikanku sahabat yang ku harap dapat terus bersama bergenggam tangan di surgaMu nanti.........
Kamis, 21 Mei 2015
permohonan maafku untukMu
Satu pekan.....
Aku semakin termenung jika mengingat hari itu tiba. Hari dimana aku genap menjadi pribadi yang semakin mapan secara umur.
Di masa lalu, aku selalu tak ingin melewatkan pertambahan usia dengan euforia, kemegahan, dan hingar bingar perayaan.
Kini, aku takut. Apa yg sudah aku lakukan di usia ku yg semakin mapan? Aku bahkan telah banyak Membuang waktu untuk menTuhankan ciptaan Tuhan.
Aku bahkan keras hati, dan menganggap hidup hanya satu kali. Maka bersenang-senanglah dan nikmati seperti remaja lainnya. Aku di masa lalu benar, hidup hanya sekali. Dan aku menikmatinya. Tapi semua tak mampu membuat hatiku bahagia. Hatiku kosong, seperti terdapat sebuah batu mengganjal sudut hatiku. Sesak ku rasakan di tengah kelapangan ku menikmati masa muda, sunyi ku rasakan di tengah kebisingan dunia.
Allahku, apa yg telah aku perbuat selama ini? terlalu jauhkah aku dariMu? Sehingga batu yang megganjal hatiku perlahan menggeser hatiku sesungguhnya. Aku keras hati. Aku mengingkari kebenaranMu.
Maafkan aku, wahai Pengisi Hati yang Maha Teduh. Maafkan selama ini aku menduakanMu. Aku mencintai dunia dan seisinya tapi aku menginkari bahwa Kau pemiliknya. Dan satu-satunya yg layak dicintai.
Aku semakin termenung jika mengingat hari itu tiba. Hari dimana aku genap menjadi pribadi yang semakin mapan secara umur.
Di masa lalu, aku selalu tak ingin melewatkan pertambahan usia dengan euforia, kemegahan, dan hingar bingar perayaan.
Kini, aku takut. Apa yg sudah aku lakukan di usia ku yg semakin mapan? Aku bahkan telah banyak Membuang waktu untuk menTuhankan ciptaan Tuhan.
Aku bahkan keras hati, dan menganggap hidup hanya satu kali. Maka bersenang-senanglah dan nikmati seperti remaja lainnya. Aku di masa lalu benar, hidup hanya sekali. Dan aku menikmatinya. Tapi semua tak mampu membuat hatiku bahagia. Hatiku kosong, seperti terdapat sebuah batu mengganjal sudut hatiku. Sesak ku rasakan di tengah kelapangan ku menikmati masa muda, sunyi ku rasakan di tengah kebisingan dunia.
Allahku, apa yg telah aku perbuat selama ini? terlalu jauhkah aku dariMu? Sehingga batu yang megganjal hatiku perlahan menggeser hatiku sesungguhnya. Aku keras hati. Aku mengingkari kebenaranMu.
Maafkan aku, wahai Pengisi Hati yang Maha Teduh. Maafkan selama ini aku menduakanMu. Aku mencintai dunia dan seisinya tapi aku menginkari bahwa Kau pemiliknya. Dan satu-satunya yg layak dicintai.
Langganan:
Komentar (Atom)