Aku bahkan masih mengingat jelas kapan percakapan yang masih tersimpan itu terjadi. Saat itu, aku sedang seperti biasanya, menikmati menahan kantuk dan lelahku demi untuk melakukan percakapan yang berisi canda dan obrolan yang biasa saja namun entah kenapa memberikan getaran hebat di dadaku. Aku rasa saat itu aku menjatuhkan nyamanku padamu.
Kini, tak ada lagi sapaanmu saat mentari menampakkan dirinya. Tak ada lagi kalimat pengantar tidur darimu, karena aku dan kamu takkan pernah menjadi kita. Kamu, memutuskan untuk memilih jalan lain bersama oranglain.
Aku memang sudah sampai pada titik selesai menjadi penawar rasa sakitmu, namun masihkah boleh aku merindukanmu sekali lagi? Mengenang segala hal manis kala aku dan kamu hampir menjadi kita. Masihkan boleh aku tersenyum mengingat semua yg kau lakukan hingga mampu menggeser posisi orang yg pernah aku cintai begitu dalam? Izinkan aku mengenang dan merindumu malam ini, karna setelah ini aku akan membiarkan semua yg pernah terjadi antara kamu an aku yg hampir menjadi kita bias bersama lelapnya tidurku nanti. Semoga berbahagia bersama jalan dan teman yg kau pilih untuk di sisimu.