Minggu, 22 Februari 2015

teringat kembali

Malam ini aku menggigil hebat, karena udara-udara yang aku rasakan berhembus menusuk tulangku bersama dengan beberapa kenangan yang tak sengaja terpanggil kala aku membaca percakapan aku dan kamu yang dulu hampir menjadi kita di ponselku. Kembali melayang ke masa dimana aku dan kamu berbagi canda, saling menyemangati, dan saling berusaha menyembuhkan hati yang baru saja dihancurkan oleh satu kata "pisah" oleh dia yang dulu menjadi daftar doa di setiap sujud.

Aku bahkan masih mengingat jelas kapan percakapan yang masih tersimpan itu terjadi. Saat itu, aku sedang seperti biasanya, menikmati menahan kantuk dan lelahku demi untuk melakukan percakapan yang berisi canda dan obrolan yang biasa saja namun entah kenapa memberikan getaran hebat di dadaku. Aku rasa saat itu aku menjatuhkan nyamanku padamu.

Kini, tak ada lagi sapaanmu saat mentari menampakkan dirinya. Tak ada lagi kalimat pengantar tidur darimu, karena aku dan kamu takkan pernah menjadi kita. Kamu, memutuskan untuk memilih jalan lain bersama oranglain.

Aku memang sudah sampai pada titik selesai menjadi penawar rasa sakitmu, namun masihkah boleh aku merindukanmu sekali lagi? Mengenang segala hal manis kala aku dan kamu hampir menjadi kita. Masihkan boleh aku tersenyum mengingat semua yg kau lakukan hingga mampu menggeser posisi orang yg pernah aku cintai begitu dalam? Izinkan aku mengenang dan merindumu malam ini, karna setelah ini aku akan membiarkan semua yg pernah terjadi antara kamu an aku yg hampir menjadi kita bias bersama lelapnya tidurku nanti. Semoga berbahagia bersama jalan dan teman yg kau pilih untuk di sisimu.

Jumat, 13 Februari 2015

patah lagi....

aku pernah mencintai begitu lama, aku pernah menyayangi begitu dalam. sampai akhirnya rasa itu dipaksa pergi, karna dia yang ku sayang memilih pergi namun membawa separuh rasa ini.

aku sempat tak ingin lagi memberikan hatiku, aku takut terlalu dalam kemudian dihancurkan lagi. aku rapuh.....

namun, pertemuanku denganmu membuat segala ketakutanku sirna dalam sekejap. kau selalu memiliki cara membuatku tersenyum, atau betah berlama-lama terhubung denganmu walaupun hanya melalui telefon. aku betah membagi fokusku hanya demi tak mau membuatmu menunggu balasan blackberry messenger ku. aku tak pernah ingin beranjak tidur dan terlelap, selama dirimu masih terjaga, kau tau? aku sesungguhnya sangat ingin istirahat karena seharian ini penat. tapi bersamamu, aku mampu menahan penat dan hasratku ingin istirahat, karna kamu adalah salah satu sumber energiku.

saat bersamamu kita saling tahu, bahwa cuaca saat itu sangat panas, membuat semua ingin marah. tapi entah, saat denganmu semua beku.

aku sadar, aku mulai menepis ketakutan akan jatuh dan menyayangi, namun kau pergi saat aku sedang memulai. apa kau sudah tak ingin berbagi canda dan tawa melalui telfon seperti dulu? apa kau sudah bosan berbalas chat denganku seperti saat itu?

aku bagaikan patahan kayu, belum sempat utuh diperbaiki namun sudah terjatuh kembali, dan remuk tanpa sisa. luka ini lebih menyakitiku, karena aku tau, saat kau membawa kepingan rasa itu, tak ada yg tersisa untukku. hanya sepi, dan sakit.

aku tau, aku pernah dalam mencinta, sebelum bertemu kamu, dan aku berhasil melewatinya. dan sekarangpun aku akan mampu melewatinya, aku akan jaga kenangan ini, bukan untuk menghambat jalanku ke depan, hanya sekedar untuk membuatku tersenyum kala pagi menyapaku.

tempat singgahmu

aku masih mengingat dengan jelas bagaimana senyummu saat terakhir kali kita berjumpa. aku mengingat itu, karena aku masih ingin menjadi tempat singgahmu.

aku tau, tak mungkin bagiku menjadi tempatmu berhenti, menjadi tujuanmu. namun tak mengapa jika aku hanya sebatas tempatmu singgah, aku akan membuatmu singgah lebih lama saat kamu berhenti padaku lagi. aku akan mencari jutaan cara agar membuatmu lupa akan tujuanmu, dan selalu ingin singgah padaku.

aku takkan berganti menjadi tujuan, jika memang kamu tetap ingin menjadikanku persinggahan saat kau dihempas kehampaan.

tak mengapa bagiku jika memang harus begitu, karena perihal mencinta harusnya memberi bukan? ya, aku memberikanmu tempat singgah yang nyaman, agar kau selalu menjadikanku tujuan untuk singgah. sampai kau mengerti, bahwa singgah adalah satu-satunya tujuanmu.

Jumat, 06 Februari 2015

segenggam Bintang

Jutaan kisah telah tercipta di dunia ini. aku tak pernah terfikir akan memiliki kisah sedalam ini dengan kamu, kamu dan banyak lagi kamu dalam hidupku ini.

aku tak pernah terfikir, bahwa denganmu segala kekangan dunia terhempas dan melebur dalam tawa bersama. aku tak pernah terfikir, bahwa setiap detik bersamamu akan menjadi kenangan yang aku rindukan nanti, bahkan detik ini aku mulai merindukan tawa dan canda itu. aku rindu saat kita tertawa seperti segerombolan anak-anak yang mendapatkan segenggam cokelat secara cuma-cuma. aku mulai merindukan saat dimana  yang seadanya, namun berarti segalanya saat kita bersama.

kita sudah sampai di penghujung pencapaian kita, aku mulai sadar bahwa kini semua mulai terbungkus menjadi kenangan yg perlahan akan aku rindukan keberadaannya.

kita takkan mungkin memutar kembali semua hal indah itu, namun bisakah aku meminta bahwa kita akan tetap menjadi kita sampai batas waktu yg tak dapat ditentukan? meskipun kebersamaan itu takkan mampu lagi aku dapatkan di setiap hariku. dapatkah kita tetap menjaga keutuhan ini? bisakah kita tetap menjadi hangat, meskipun benteng jarak dan kesibukan memisahkan kita yang dulunya sedekat nadi? 

perlahan namun pasti, jalan yg kita ambil semakin membuat raga tak mampu berdampingan lagi. namun, aku tau kini kau adalah bintang yg selama ini aku cari. Bintang yg jauh disana, namun kita akan mampu memandang satu sama lain, Bintang yg keberadaannya menjadi sangat berarti kala gelap menyapa, menjadi penerang walau tak semegah mentari.

J!

Sebuah gambar mengingatkanku kepadamu, gambar dimana aku pertama kali dibawa olehmu ke dalam hidup yang sesungguhnya.

samar aku melihat tujuanku dalam hidup, sampai aku menemukanmu dalam samarku. aku tau, kita tak pernah mengungkapkan ini satu sama lain, perasaan yang akrab dengan sapaan "sayang". yang aku tau, berbagi suka, duka, tawa serta airmata denganmu adalah sayang yang takkan pernah diungkapkan, namun nyata dan menembus dalam ingatanku.

aku pernah mencoba mengungkapkan rasa ini padamu, namun yang ku terima tawa darimu. ya aku tau, kaupun sama. hanya saja kau tak sepertiku, kau adalah sosok individu pemendam rasa. dan yg ku tahu, pemendam rasa memiliki rasa yang lebih dalam dibandingkan aku yang pengungkap.

J! itulah kamu, salah satu tangan Tuhan yang dikirimkan kepadaku sebagai wujud kasih Tuhan kepadaku, gadis lemah yang mudah hilang arah. kamu datang sebagai penunjuk jalan, saat aku mulai merasa tersesat. aku adalah mobil, dan kau rambu yang ada dalam lintasan, mengingatkan, penunjuk jalan, agar mobil dapat sampai ke tempat tujuannya.

terima kasih J, untuk datang dan aku harap tak pernah pergi dari sisiku yg lemah ini.

Selasa, 03 Februari 2015

ampas kopi

aku adalah senja, namun kini aku membenci senja. Senja tak semegah kemarin, mungkin karena ada hati yang dipatahkan dan senja menjadi gelap, murung, abu-abu, tak berwarna.

ku teguk secangkir kopi dan ku nikmati kafein yang membuat jantung ini berdebar hebat, aku sudah lupa bagaimana jatung ini berdebar hebat, yang ku ingat debaran itu terhenti saat kau meninggalkanku tanpa sedikitpun memberiku kesempatan menahanmu.

secangkir kopi ini membantuku mendebarkan kembali jantungku, membawa rindu-rindu yang telah lama terendap bagaikan ampas dalam secangkir kopi ini, kau tahu sepedih apa rindu kepada seseorang yang tak sedikitpun merindukan hadirmu? mungkin hanya ampas ini yang mampu menjelaskan, ampas tak sekalipun tersentuh penikmat sang kopi, dibiarkan melekat erat pada cangkir, dipaksa memudar namun masih menyisakan butiran noda yang melekat dengan hebat.

ya, aku membuang rindu itu seperti ampas kopi dalam cangkir, namun rindu tetaplah rindu yang memberikan sebuah noda yang takkan pernah hilang dengan sempurna.

kau adalah kopi yang ku nikmati senja itu, mendebarkanku, namun menyisakan ampas di hatiku.

siang tadi

seorang gadis termenung di sudut cafe itu, gadis yang baru saja ditinggalkan kekasihnya. tanpa sadar airmata terjatuh tanpa ampun dari pelupuk matanya. pedih tak berkesudahan, sejak kepergian pencuri sebagian hatinya siang tadi.

sayang, aku akan selalu seperti ini kala kita berpisah, bukan karna aku tak ingin kamu kembali kesana, hanya saja aku takkan siap menghadapi rindu yang membuat aku perih, dan menjadikanku pecandu perih itu. sendirian......

bukan aku tak percaya saat kau jauh, hanya saja aku tak ingin melewati sebuah kisah dalam hidupku bertemankan kerinduan dan khayalanmu di sisiku.

aku akan terus menunggumu dalam rindu, menunggu hingga aku dan kamu menjadi kita kembali,, berjanjilah menghapus airmata ini dengan jemari-jemarimu, seperti siang tadi.....