Aku terjatuh, terluka. Kau yg menemukanku selalu.
Saat aku lemah, tak berdaya, sosokmu menguatkanku.
Aku takut, hilang arah, tak tau harus melangkah atau nenyerah, tangan kuatmu menggenggamku, teduhnya jiwamu menuntunku menapaki mimpiku.
Saat aku tak sanggup, saat dunia membuatku hampir terjatuh. Saat dunia menghantamku hingga peluhku menjadi tangis. Kau tak henti, tak padam, dan selalu brjuang. Untukku.....
Kau yang akan selalu jadi sayap pelindungku, kau yg berjanji mencintaiku dengan tulus, dan takkan ingkar. Malaikat takkan ingkar janji.
Kau yg akan membawaku selalu terbang menggapai hamparan mimpi di langit sana. Kau tak berjanji akan menemaniku dalam waktu panjang, tapi janjimu ku percaya bahwa kau akan selalu jadi sayap pelindungku.
Untukmu malaikatku, sayap pelindungku. Mama.....
Inspired by: the overtunes - Sayap Pelindungmu
Selasa, 13 Oktober 2015
Kamis, 13 Agustus 2015
aku malu
Aku mengakui kelemahanku di hadapanMu, aku sadar telah banyak melampaui batas, melanggar yang tak Engkau restui tapi masih saja Engkau menyayangiku. Saat aku meninggalkanMu, berpaling sangat jauh.
Aku malu..... aku ini tiada arti, hanya setitik pasir di hamparan pantai. Tak terlihat, kecil namun aku masih saja angkuh dan enggan bersujud padaMu.
Aku malu, karna aku tak hafal kalimat cinta yg Engkau katakan, hafal saja tidak, bagaimana aku bisa paham seutuhnya mengenai cara mencintaiMu?
Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang hamba yang masih terus berusaja mencintaiMu, meskipun terkadang aku berpaling. Aku hanya seorang hamba, yg dengan langkah rapuhnya memohon agar Engkau selalu menjadi alasanku kuat, menjadi alasanku terus mengayuh sepeda kehidupanku di dalam perjalanan yg terus saja mendaki, berat, dan terjal.
Aku malu wahai Sang Pemilik Hati, aku malu masih saja lalai dan berpaling. MenduakanMu. Meski sedikitpun tak pernah Engkau benci padaKu.
Jauh di lubuk hatiku, ada gelisah saat aku berpaling. Ada kekosongan saat aku berjalan menjauhiMu. Ada sakit, saat aku berperilaku yg menyakitiMu. Ada cemburu, saat ada yg lain memelukMu lebih erat dariku. Ada kemarahan, ketika melihat yg lain begitu mesra bersamaMu di dalam keheningan.
Temukan aku selalu, saat aku tersesat. Kembalikan aku u tuk mencintaiMu senakin dalam setiap harinya. Buat aku menjadi salah satu pencintaMu yg hafal dan ingat isi surat cintaMu. Memahami, mengamalkan hingga Engkau memintaku kembali.
Aku malu..... aku ini tiada arti, hanya setitik pasir di hamparan pantai. Tak terlihat, kecil namun aku masih saja angkuh dan enggan bersujud padaMu.
Aku malu, karna aku tak hafal kalimat cinta yg Engkau katakan, hafal saja tidak, bagaimana aku bisa paham seutuhnya mengenai cara mencintaiMu?
Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang hamba yang masih terus berusaja mencintaiMu, meskipun terkadang aku berpaling. Aku hanya seorang hamba, yg dengan langkah rapuhnya memohon agar Engkau selalu menjadi alasanku kuat, menjadi alasanku terus mengayuh sepeda kehidupanku di dalam perjalanan yg terus saja mendaki, berat, dan terjal.
Aku malu wahai Sang Pemilik Hati, aku malu masih saja lalai dan berpaling. MenduakanMu. Meski sedikitpun tak pernah Engkau benci padaKu.
Jauh di lubuk hatiku, ada gelisah saat aku berpaling. Ada kekosongan saat aku berjalan menjauhiMu. Ada sakit, saat aku berperilaku yg menyakitiMu. Ada cemburu, saat ada yg lain memelukMu lebih erat dariku. Ada kemarahan, ketika melihat yg lain begitu mesra bersamaMu di dalam keheningan.
Temukan aku selalu, saat aku tersesat. Kembalikan aku u tuk mencintaiMu senakin dalam setiap harinya. Buat aku menjadi salah satu pencintaMu yg hafal dan ingat isi surat cintaMu. Memahami, mengamalkan hingga Engkau memintaku kembali.
Senin, 15 Juni 2015
tak inginku kembali
Senja, selalu dihiasi aktifitas yang tak jauh dr sibuk dengan sisa tenaga. Aku disini beraktifitas, bukan tenaga ku yg terkuras habis, namun hati dan fikiranku. Warna jingga itu, ku tatap begitu syahdu memancarkan sang mentari yg malu-malu memasuki singgasananya. Tenggelam, itu yg umum diucapkan. Jingga itu, memancarkan bahwa akan selalu ada indah di pengakhiran, bahwa setiap langkah kaki membawa harapan. Matahari terbenam itu, melambangkan bahwa hari ini akan menjadi kemarin, maka kuburlah dalam-dalam yg kelam, berdamailah dengan yg lalu, jadikan pembelajaran.
Aku menikmati ini, dulu aku selalu merindu yg lalu. Terbesit ingin kembali dan memperbaiki sejarah atasku. Tapi,kini tak ingin ku kembali. Aku telah banyak belajar dr setiap goresan yg aku tulis di buku sejarah tentangku. Aku tak mau melalui itu lagi, tak mau tenggelam lagi ke dalam aku yg banyak melakukan kesia-siaan. Kembali menjadi aku yg sangat gemerlap dI luar, hampa di dalam. Sejarahku membentukku untuk tak henti memohon maaf padaNya.
Aku ingin selalu melangkahkan kaki tanpa ada hasrat menengok masa lalu jika itu menghambat langkahku. Aku ingin selalu berdamai dengan masa laluku, dan menggenggam masa sekarang dan nantiku.
-aku yang dalam lirih memohon agar mantap dalam melangkah-
Sabtu, 06 Juni 2015
cinta itu Engkau
Hari ini, aku membuktikan lagi. Bahwa ada Maha Cinta hidup di alam semesta ini.
Aku terbangun saat matahari masih asyik tertidur di singgasananya, aku terbangun di waktu sepertiga malamMu. Entah alarm darimana, Aku beranjak dari tempatku bermimpi. Mempercantik diri untuk berhadapan dengan Sang Maha Cinta, Sang Pemilik diriku ini.
keningku bersatu dengan tanahNya, hatiku bergetar hebat disana. Allah, aku sadar telah banyak lalai bahkan di setiap aku sujud dan menghadapMu. Allahku Yang Agung, satu-satunya cinta tertinggi, apa Kau marah padaku? Maafkan aku, aku banyak melalaikan peringatanMu, aku banyak menyia-nyiakan waktu luangku. Masihkah aku pantas menjadi salah satu kecintaanMu?
Aku cemburu ketika ada yang lain begitu dekat denganMu, aku cemburu ketika ada yg lain begitu erat mendekapMu, tenggelam dalam lantunan kalimat cintaMu dan berlayar dalam samudra cintaMu yang bahkan lebih luas dari samudra, lebih dalam dari palung, dan lebih tinggi dari langit apapun. Allah, aku ingin pantas dicintaiMu, masih layakkah aku memohon padaMu dengan lantang agar Engkau tetap menutun dan memelukku bahkan ketika ada yg lebih dariku dalam mendekatiMu?
Jangan biarkan siapapun menggeserMu, jaga hatiku agar tetap mendekap iman dan islam ini wahai yang Maha membolak balikkan hati.
Aku terbangun saat matahari masih asyik tertidur di singgasananya, aku terbangun di waktu sepertiga malamMu. Entah alarm darimana, Aku beranjak dari tempatku bermimpi. Mempercantik diri untuk berhadapan dengan Sang Maha Cinta, Sang Pemilik diriku ini.
keningku bersatu dengan tanahNya, hatiku bergetar hebat disana. Allah, aku sadar telah banyak lalai bahkan di setiap aku sujud dan menghadapMu. Allahku Yang Agung, satu-satunya cinta tertinggi, apa Kau marah padaku? Maafkan aku, aku banyak melalaikan peringatanMu, aku banyak menyia-nyiakan waktu luangku. Masihkah aku pantas menjadi salah satu kecintaanMu?
Aku cemburu ketika ada yang lain begitu dekat denganMu, aku cemburu ketika ada yg lain begitu erat mendekapMu, tenggelam dalam lantunan kalimat cintaMu dan berlayar dalam samudra cintaMu yang bahkan lebih luas dari samudra, lebih dalam dari palung, dan lebih tinggi dari langit apapun. Allah, aku ingin pantas dicintaiMu, masih layakkah aku memohon padaMu dengan lantang agar Engkau tetap menutun dan memelukku bahkan ketika ada yg lebih dariku dalam mendekatiMu?
Jangan biarkan siapapun menggeserMu, jaga hatiku agar tetap mendekap iman dan islam ini wahai yang Maha membolak balikkan hati.
Jumat, 05 Juni 2015
takut
Aku menikmati saat keningku menyentuh bumi, aku mencintai ketika aku merintih kepadaNya memohon petunjuk atas sebuah keputusan. Aku menikmati mengalirkan airmata dan memecah hening sepertiga malamMu dengan suara piluku.
Aku pernah sangat yakin meminta petunjuk untuk bertahan atau pergi. Namun, aku slalu siap dengan jawabanMu. Kemudian jawabannya adalah pergi. Aku pergi sesuai petunjukMu.
Kemudian, aku merintih kembali bertanya dengan intim padaMu untuk menemukan jawaban meberimaatau menolak hambaMu yang menawarkan tempat perhentian. Engkau berkata tolak, aku mantap melangkah dengan jawaban menolak.
Namun, ada apa dengan hari ini? aku memohon padaMu, memberikan jawaban atas rasa ini. Aku meminta padaMu apakah dia jawaban atas doaku? Apakah dia hambaMu yg akan berdiri di depanku dan dengan gagah memimpinku dalam berkomunikasi denganMu. Aku takut Allahku, aku takut Engkau menjawab "bukan dia", aku takut Engkau menjawab "tidak, hentikan rasamu itu hambaKu". Aku tak pernah setakut ini menunggu jawabanMu, Allahku.
Jika nanti aku menerima jawabanMu, aku hanya ingin Engkau memberikanku hati yang lapang untuk taat padaMu, hapuskan sedih ini Allahku. Karna hatiku memang kepunyaanMu.
-hambaMu-
Aku pernah sangat yakin meminta petunjuk untuk bertahan atau pergi. Namun, aku slalu siap dengan jawabanMu. Kemudian jawabannya adalah pergi. Aku pergi sesuai petunjukMu.
Kemudian, aku merintih kembali bertanya dengan intim padaMu untuk menemukan jawaban meberimaatau menolak hambaMu yang menawarkan tempat perhentian. Engkau berkata tolak, aku mantap melangkah dengan jawaban menolak.
Namun, ada apa dengan hari ini? aku memohon padaMu, memberikan jawaban atas rasa ini. Aku meminta padaMu apakah dia jawaban atas doaku? Apakah dia hambaMu yg akan berdiri di depanku dan dengan gagah memimpinku dalam berkomunikasi denganMu. Aku takut Allahku, aku takut Engkau menjawab "bukan dia", aku takut Engkau menjawab "tidak, hentikan rasamu itu hambaKu". Aku tak pernah setakut ini menunggu jawabanMu, Allahku.
Jika nanti aku menerima jawabanMu, aku hanya ingin Engkau memberikanku hati yang lapang untuk taat padaMu, hapuskan sedih ini Allahku. Karna hatiku memang kepunyaanMu.
-hambaMu-
Kamis, 04 Juni 2015
tak perlu
Tak perlu kau bertindak ceroboh hanya demi perhatian yang belum bisa menjamin bahagia untukmu.
Tak perlu kau berteriak lantang bahwa kau bahagia hanya demi menyakiti sisi yg berbeda darimu.
Tak perlu juga, kau berteriak akan kesakitanmu hanya demi memalingkan semua orang agar memerhatikanmu.
Kau hanya perlu melakukan tindakan yg berasal dari ketulusan, kau hanya perlu bersikap tanpa kata.
Jangan seperti setitik nila yang merusak susu sebelangga, jangan melakukan itu. Aku mohon.......
Tak perlu kau berbicara bahwa kau yg terbaik, karna kau tak perlu itu. Kau hanya perlu bertindak dalam senyap.
Kau perlu mengerti, segala isi hati yang tulus akan bersinar, cerah, menyilaukan namun menawarkan keteduhan disana tanpa perlu dijelaskan oleh kalimat dan ucapan yg penuh pencitraan.
Tak perlu kau begitu...... karna ketulusan hati tak pernah ingkar.
Tak perlu kau berteriak lantang bahwa kau bahagia hanya demi menyakiti sisi yg berbeda darimu.
Tak perlu juga, kau berteriak akan kesakitanmu hanya demi memalingkan semua orang agar memerhatikanmu.
Kau hanya perlu melakukan tindakan yg berasal dari ketulusan, kau hanya perlu bersikap tanpa kata.
Jangan seperti setitik nila yang merusak susu sebelangga, jangan melakukan itu. Aku mohon.......
Tak perlu kau berbicara bahwa kau yg terbaik, karna kau tak perlu itu. Kau hanya perlu bertindak dalam senyap.
Kau perlu mengerti, segala isi hati yang tulus akan bersinar, cerah, menyilaukan namun menawarkan keteduhan disana tanpa perlu dijelaskan oleh kalimat dan ucapan yg penuh pencitraan.
Tak perlu kau begitu...... karna ketulusan hati tak pernah ingkar.
Senin, 25 Mei 2015
terimakasih penyembuh sakit.
Aku adalah seorang perempuan yg senang sekali bermain sosial media. Hari ini, aku membuka akun sosial mediaku yang berlambang burung. Aku banyak berkicau disana, hingga aku menscroll isi kicauan ku yg lalu
Aku berhenti pada kicauan di tanggal 9 maret 2015. Kicauan itu membuatku tersenyum, "dokter aja hijabnya syar'i, kamu kapan mi?". Aku selintas melayang kepada kondisi dI hari aku menulis kicauan itu. Disana aku terduduk di sebuah kursi, menemani malaikat tanpa sayapku yg sedang terbaring lemah di tenpat tidur kamar perawatan rumah sakit. Aku melihat seorang dokter wanita masuk, memeriksa. Aku kagum padanya, dengan lemah lembut memeriksa pasiennya dan hijab yang dikenakannya membuatku kagum sehingga aku ingin sepertinya dan ku tumpahkan hasratku kepada kicauan di sosmed.
Tepat hari ini, aku sadar bahwa setiap ucapan adalah doa. Setiap.khayalan adalah harapan. Dan setiap doa adalah sebuah permohonan yang dipertimbangkan Serius oleh Sang Pemilik Semesta. Hari ini aku belajar, bahwa ucapan, harapan, an doa harus dijaga agar tujuannya tetap baik.
Semoga aku istiqomh di jalan ini, terima kasih ibu dokter yg telah membuatku menyebut harapan yg membawaku ke jalan yg perlahan terang ini.
Aku berhenti pada kicauan di tanggal 9 maret 2015. Kicauan itu membuatku tersenyum, "dokter aja hijabnya syar'i, kamu kapan mi?". Aku selintas melayang kepada kondisi dI hari aku menulis kicauan itu. Disana aku terduduk di sebuah kursi, menemani malaikat tanpa sayapku yg sedang terbaring lemah di tenpat tidur kamar perawatan rumah sakit. Aku melihat seorang dokter wanita masuk, memeriksa. Aku kagum padanya, dengan lemah lembut memeriksa pasiennya dan hijab yang dikenakannya membuatku kagum sehingga aku ingin sepertinya dan ku tumpahkan hasratku kepada kicauan di sosmed.
Tepat hari ini, aku sadar bahwa setiap ucapan adalah doa. Setiap.khayalan adalah harapan. Dan setiap doa adalah sebuah permohonan yang dipertimbangkan Serius oleh Sang Pemilik Semesta. Hari ini aku belajar, bahwa ucapan, harapan, an doa harus dijaga agar tujuannya tetap baik.
Semoga aku istiqomh di jalan ini, terima kasih ibu dokter yg telah membuatku menyebut harapan yg membawaku ke jalan yg perlahan terang ini.
Jumat, 22 Mei 2015
masih sahabatku........
Aku terbangun dari tidurku saat adzan berkumandang lantang di sebrang sana. Dimana aku? Kamar ini tak asing, namun aku tak merasa memilikinya. Aku memalingkan wajahku ke kanan, disana ku lihat sesosok wanita yang terlelap dalam tidurnya karna semalaman berbagi cerita denganku
Aku di kamarnya...... sahabat lama yang ku kira tak dapat lagi ku dekap karna jalan kami berbeda sejak melepas seragam sekolah.
Sahabat lama yg sudah ku kenal, jauh sebelum aku menjadi seorang remaja.
Dia masih sama, masih sahabat yg tertawa dengan manis saat mendengar gurauanku yang tak lucu.
Dia masih yang dulu, bercerita dengan suara khasnya yg lembut namun kuat.
Dia....... masih sahabat kecilku, yang tak pernah menilaiku buruk karna segala tingkahku yg aneh.
Dia masih sahabat kecilku, yang bersamanya aku menemukan diriku semasa remaja masih melekat tanpa malu dengan usia.
Terima kasih Allahku, Kau masuh menjaganya untukku. Terima kasih Allahku, Kau masih memberikanku sahabat yang ku harap dapat terus bersama bergenggam tangan di surgaMu nanti.........
Kamis, 21 Mei 2015
permohonan maafku untukMu
Satu pekan.....
Aku semakin termenung jika mengingat hari itu tiba. Hari dimana aku genap menjadi pribadi yang semakin mapan secara umur.
Di masa lalu, aku selalu tak ingin melewatkan pertambahan usia dengan euforia, kemegahan, dan hingar bingar perayaan.
Kini, aku takut. Apa yg sudah aku lakukan di usia ku yg semakin mapan? Aku bahkan telah banyak Membuang waktu untuk menTuhankan ciptaan Tuhan.
Aku bahkan keras hati, dan menganggap hidup hanya satu kali. Maka bersenang-senanglah dan nikmati seperti remaja lainnya. Aku di masa lalu benar, hidup hanya sekali. Dan aku menikmatinya. Tapi semua tak mampu membuat hatiku bahagia. Hatiku kosong, seperti terdapat sebuah batu mengganjal sudut hatiku. Sesak ku rasakan di tengah kelapangan ku menikmati masa muda, sunyi ku rasakan di tengah kebisingan dunia.
Allahku, apa yg telah aku perbuat selama ini? terlalu jauhkah aku dariMu? Sehingga batu yang megganjal hatiku perlahan menggeser hatiku sesungguhnya. Aku keras hati. Aku mengingkari kebenaranMu.
Maafkan aku, wahai Pengisi Hati yang Maha Teduh. Maafkan selama ini aku menduakanMu. Aku mencintai dunia dan seisinya tapi aku menginkari bahwa Kau pemiliknya. Dan satu-satunya yg layak dicintai.
Aku semakin termenung jika mengingat hari itu tiba. Hari dimana aku genap menjadi pribadi yang semakin mapan secara umur.
Di masa lalu, aku selalu tak ingin melewatkan pertambahan usia dengan euforia, kemegahan, dan hingar bingar perayaan.
Kini, aku takut. Apa yg sudah aku lakukan di usia ku yg semakin mapan? Aku bahkan telah banyak Membuang waktu untuk menTuhankan ciptaan Tuhan.
Aku bahkan keras hati, dan menganggap hidup hanya satu kali. Maka bersenang-senanglah dan nikmati seperti remaja lainnya. Aku di masa lalu benar, hidup hanya sekali. Dan aku menikmatinya. Tapi semua tak mampu membuat hatiku bahagia. Hatiku kosong, seperti terdapat sebuah batu mengganjal sudut hatiku. Sesak ku rasakan di tengah kelapangan ku menikmati masa muda, sunyi ku rasakan di tengah kebisingan dunia.
Allahku, apa yg telah aku perbuat selama ini? terlalu jauhkah aku dariMu? Sehingga batu yang megganjal hatiku perlahan menggeser hatiku sesungguhnya. Aku keras hati. Aku mengingkari kebenaranMu.
Maafkan aku, wahai Pengisi Hati yang Maha Teduh. Maafkan selama ini aku menduakanMu. Aku mencintai dunia dan seisinya tapi aku menginkari bahwa Kau pemiliknya. Dan satu-satunya yg layak dicintai.
Selasa, 07 April 2015
kamu
Kamu...... mengatakan bahwa ada rasa yg begitu menyesakkan di dada dan tak mampu kau bendung kepadaku.
Kamu bilang, bahwa kamu siap menjadi "guardian angel"ku.
Tapi kamu mencintaiku, atau ini hanya sekedar hasratmu saja?
Cintamu tak sebanding dengannya. Kamu kira dengan menunjukkan perhatian melalui pesan singkat secara berkala akan membuatku luluh dan jatuh hati? Tidak. Aku sudah di titik bosan mendapat bualan itu. Kau mengaku mampu jadi yg terbaik? Kau masih saja belum membuatku yakin, bahwa aku perlu menjadikanmu sebagai "model" hidupku
Kau takkan menang darinya, dia raha di hatiku. Dia guardian angel ku. Pria gagah yg mencintaiku bahkan sebelum rupaku mengenal segala perawatan kecantikan, dia mencintaiku bahkan sebelum aku paham apakah agama adalah penting, dia mencintaiku jauh sebelum aku berwarna seperti sekarang
Kau.... takkan pernah bisa membuatku yakin, bahwa kamulah yg pantas menjadi modelku setelah ayahku. 😊
Kamu bilang, bahwa kamu siap menjadi "guardian angel"ku.
Tapi kamu mencintaiku, atau ini hanya sekedar hasratmu saja?
Cintamu tak sebanding dengannya. Kamu kira dengan menunjukkan perhatian melalui pesan singkat secara berkala akan membuatku luluh dan jatuh hati? Tidak. Aku sudah di titik bosan mendapat bualan itu. Kau mengaku mampu jadi yg terbaik? Kau masih saja belum membuatku yakin, bahwa aku perlu menjadikanmu sebagai "model" hidupku
Kau takkan menang darinya, dia raha di hatiku. Dia guardian angel ku. Pria gagah yg mencintaiku bahkan sebelum rupaku mengenal segala perawatan kecantikan, dia mencintaiku bahkan sebelum aku paham apakah agama adalah penting, dia mencintaiku jauh sebelum aku berwarna seperti sekarang
Kau.... takkan pernah bisa membuatku yakin, bahwa kamulah yg pantas menjadi modelku setelah ayahku. 😊
Jumat, 03 April 2015
cinta itu kamu
Sebuah media mengingatkanku pada seseorang yg baru aku sadari bahwa kehadirannya menjadi kebutuhanku. Seseorang yg selama ini di sisiku namun tak pernah sedikitpun aku merasa intim. Seseorang yg peluhnya bercucuran mengalir deras, hanya demi melihat aku dan segala impianku menjadi satu kesatuan.
Aku selalu tak mensyukuri hadirnya, aku selalu ingin memiliki pria lain di sisiku. Aku selalu merasa, dia bukanlah pria romantis. Tak mampu romantis padaku, si gadis manja.
Namun, aku sadar. Dialah yg selalu menawarkan bahunya yg kokoh agar aku nyaman dan percaya padanya bahwa satu-satunya tempat aku merasa aman dan nyaman adalah bahunya. Dia satu-satunya pria yg mampu memberikan separuh hidupnya hanya demi mewujudkan permintaanku yg terkadang menyulitkannya. Dia adalah ciptaan Tuha yg sangat indah, dia adalah malaikat penjagaku. Dia dalah satu-satunya pria yg mampu mencintaiku tanpa kata, diam, bisu. Nakun cintanya melekat erat dalam aliran darahku, cintanya mendekap erat dalam ingatanku, dan cintanya begitu nyata kala dia.berdialog dengan Tuhan dan memohon atas segala kebahagiaanku di detik ini.
Aku telah menemukan siapa cinta pertamaku, dialah cinta pertamaku. Papa.....
Pria tampan yang berjanji menjagaku dengan sepenuh jiwa ketika aku lahir ke dunia ini, namun ku abaikan perjuangannya.
Papa.... pria yg bersedia menerjang badai bahkan kesulitan apapun demi mencukupi segala kebutuhan dan keinginanku. Papa...... pria yang sanggup mencintaiku dalam diam, pria yg sanggup menyerahkan raga hanya demi bahagiaku.
Aku mencintaimu papa..... hanya kamu raja di hatiku, hanya kamu pria yg mencintaiku tanpa syarat disaat pria lain mencintaiku dengan alasan.
Jumat, 27 Maret 2015
hening
Aku adalah ceria. Gaduh adalah teman terdekatku. Aku selalu Menghadirkan gemerlap dunia bagi sekelilingku. Aku benci hening, karna hening menciptakan banyak airmata. Karna hening...... banyak memanggil para hati yang berlubang.
Namun, kini aku mendekap hening. Aku mendekap erat sesuatu yg dulu tak pernah ku inginkan. Dari hening aku belajar untuk menjadi perenung, dari hening aku belajar bahwa hening tak.berarti sunyi, bahwa hening tak berarti sepi. dan bahwa hening adalah tenang. Kau hening, tempatku bersandar, tempatku melukis diriku melalui renungan.
Aku mencintaimu..... hening.
Minggu, 22 Maret 2015
bimbang
Warnaku abu-abu, hitam namun tak gelap, putih namun keruh. Hatiku bergemuruh hebat di dalam sana, aku harus memilih jalan yg aku ambil.
Berkali-kali banyak hati yg menjadi persinggahanku, menawarkan kenyamanan namun itu semua samar, semu, tak berkepastian. Aku kira ketidak nyamanan ku menjadikan satu hati sebagai tempat pulang berikutnya adalah ulah masa laluku yg begitu melukai. Namun, hatiku mulai menjadi abu-abu, sampai aku menemukan satu titik, bahwa yg ku cari adalah cintaNya. Hatiku tak sanggup menjadikan hati lain sebagai tempat pulang karena DIA belum setuju
Ya, aku memutuskan memilih jalan baru untuk ku tapaki. Ku tinggalkan hobiku menjadikan hati lain persinggahan secara bergilir. Aku sadar, hatiku bukan turis. Sesuka hati singgah, memberikan catatan persinggahan lalu pergi. Aku sadar semua ini tak benar, aku sadar DIA marah. Dan aku tinggalkan semua itu.
Namun, mengapa disaat aku baru memulai nenapaki jalan baru itu ada satu hati yg menawarkan tempat pulang, menawarkan keteduhan. Menbuat hati ini seperti tergoyahkan. Cobaan kah? Atau memang ini adalah jawaban agar aku berhenti menjadi turis dalam hati orang lain? Dan sudah saatnya aku menjadi tuan rumah?
Tuhan, jika memang ini cobaan. Jangan biarkan hati siapapun luka, dan jika memang ini adalah jawaban. Teguhkan aku, agar menjaga rumah baruku dan menjadikannya satu satunya. seumur hidup.
Berkali-kali banyak hati yg menjadi persinggahanku, menawarkan kenyamanan namun itu semua samar, semu, tak berkepastian. Aku kira ketidak nyamanan ku menjadikan satu hati sebagai tempat pulang berikutnya adalah ulah masa laluku yg begitu melukai. Namun, hatiku mulai menjadi abu-abu, sampai aku menemukan satu titik, bahwa yg ku cari adalah cintaNya. Hatiku tak sanggup menjadikan hati lain sebagai tempat pulang karena DIA belum setuju
Ya, aku memutuskan memilih jalan baru untuk ku tapaki. Ku tinggalkan hobiku menjadikan hati lain persinggahan secara bergilir. Aku sadar, hatiku bukan turis. Sesuka hati singgah, memberikan catatan persinggahan lalu pergi. Aku sadar semua ini tak benar, aku sadar DIA marah. Dan aku tinggalkan semua itu.
Namun, mengapa disaat aku baru memulai nenapaki jalan baru itu ada satu hati yg menawarkan tempat pulang, menawarkan keteduhan. Menbuat hati ini seperti tergoyahkan. Cobaan kah? Atau memang ini adalah jawaban agar aku berhenti menjadi turis dalam hati orang lain? Dan sudah saatnya aku menjadi tuan rumah?
Tuhan, jika memang ini cobaan. Jangan biarkan hati siapapun luka, dan jika memang ini adalah jawaban. Teguhkan aku, agar menjaga rumah baruku dan menjadikannya satu satunya. seumur hidup.
Selasa, 17 Maret 2015
tentangku
Mentari siang ini sepertinya sangat ingin menunjukkan
kegagahannya, aku merasakan panas dan gersang di sekitarku. Aku selalu memilih
mendengarkan music agar menyejukkan hati dan suasana. Lagu itu, catatan suara
yang aku terima darimu belum lama. Aku tersenyum, teringat saat aku dan kamu
masih mencoba saling melengkapi, saat aku dna kamu saling mencoba menyembuhkan
hati yang terluka, lebam dan hampir membeku.
ya, itu hanya sebuah kisah yang kini menjadi kenangan. kisah singkat, dan manis. namun entah, aku masih belum merasa kamu adalah obat itu, kamu adalah penawar rasa sakit itu. aku masih belum menemukan diriku tercermin utuh saat bersamamu. bukan salahmu, mungkin ini tentangku. tentangku yang masih terluka, tentangku yang tak ingin kamu ikut terluka karena aku akan menjadi psikopat bahkan pembunuh hati jika kamu masih saja berdekatan denganku.
ini tentangku, yang masih tak ingin menjadi sepasang merpati, terikat oleh janji, walaupun mampu terbang secara bebas.
ini tentangku, yang masih belum siap menaruh dan memercayakan hatiku pada satu tempat, kemudian ku kunci rapat dan ku biarkan mengendap disana agar tak ada tempat lain yg mencoba menawarkan kenyamanan pada hatiku. aku belum ingin menempatkan hatiku pada apapun, dan siapapun.
ini tentangku, yang masih menyandarkan diri pada kesendirian. aku tau, ini memang tak adil untukmu yang sepenuh hati bernyanyi agar aku tersenyum sebelum aku lenyap dalam mimpi. ini menyakitkan untukmu, yang berusaha menawarkan untuk merawat hatiku ini.
ini masih tentangku, yang enggan berteman dengan "cinta". masih tentangku, yang merasakan kekuatan bukan hanya berasal dari sebuah kata "kekasih".
Rabu, 11 Maret 2015
berpura-pura
tersenyum adalah sebuah dramaturgi yang sampai saat ini masih aku pegang erat agar mereka melihat bahwa duniaku selalu indah.
tawa dan canda, selalu ingin aku hadirkan. aku selalu ingin menjadi sebuah mentari untuk diriku sendiri, kemudian untuk banyak orang. namun, aku hanya berhasil menjadi lilin, mampu membuat segala yg disekitarku bersinar di tengah kegelapan, namun aku hangus oleh cahaya yang aku hadirkan.
mungkin benar pernyataan bahwa orang yang memiliki tawa paling keras adalah dia yang memiliki beban terberat.
tidak, aku tak mengeluh, aku tak menghujat apa yang aku alami. hanya saja, aku ingin semua kesakitan, marah, dan segala beban di hati ini lepas tak hanya saat aku berada di keramaian, namun juga saat aku bertemankan sepi dan beberapa suara kepedihan.
aku bukan tak ingin jujur mengenai apa yang aku rasakan, hanya saja...... luka ini cukup dalam dan lama mengendap di dada, menimbulkan sebuah perisai yg kuat agar tak tumpah ruah menjadi hujan airmata yang aku sendiri tak tau bagaimana menghentikan alirnya.
mungkin ini adalah cara Tuhan mencoba membuatku menjadi lebih baik dalam menerima segala kepedihan, mungkin berpura-pura bahagia adalah cara terbaik untuk saat ini. agar aku mampu menghempas segala kekangan dan masalah di dunia.
ya, berpura-puralah sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura, berbahagia.......
tawa dan canda, selalu ingin aku hadirkan. aku selalu ingin menjadi sebuah mentari untuk diriku sendiri, kemudian untuk banyak orang. namun, aku hanya berhasil menjadi lilin, mampu membuat segala yg disekitarku bersinar di tengah kegelapan, namun aku hangus oleh cahaya yang aku hadirkan.
mungkin benar pernyataan bahwa orang yang memiliki tawa paling keras adalah dia yang memiliki beban terberat.
tidak, aku tak mengeluh, aku tak menghujat apa yang aku alami. hanya saja, aku ingin semua kesakitan, marah, dan segala beban di hati ini lepas tak hanya saat aku berada di keramaian, namun juga saat aku bertemankan sepi dan beberapa suara kepedihan.
aku bukan tak ingin jujur mengenai apa yang aku rasakan, hanya saja...... luka ini cukup dalam dan lama mengendap di dada, menimbulkan sebuah perisai yg kuat agar tak tumpah ruah menjadi hujan airmata yang aku sendiri tak tau bagaimana menghentikan alirnya.
mungkin ini adalah cara Tuhan mencoba membuatku menjadi lebih baik dalam menerima segala kepedihan, mungkin berpura-pura bahagia adalah cara terbaik untuk saat ini. agar aku mampu menghempas segala kekangan dan masalah di dunia.
ya, berpura-puralah sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura, berbahagia.......
Minggu, 22 Februari 2015
teringat kembali
Malam ini aku menggigil hebat, karena udara-udara yang aku rasakan berhembus menusuk tulangku bersama dengan beberapa kenangan yang tak sengaja terpanggil kala aku membaca percakapan aku dan kamu yang dulu hampir menjadi kita di ponselku. Kembali melayang ke masa dimana aku dan kamu berbagi canda, saling menyemangati, dan saling berusaha menyembuhkan hati yang baru saja dihancurkan oleh satu kata "pisah" oleh dia yang dulu menjadi daftar doa di setiap sujud.
Aku bahkan masih mengingat jelas kapan percakapan yang masih tersimpan itu terjadi. Saat itu, aku sedang seperti biasanya, menikmati menahan kantuk dan lelahku demi untuk melakukan percakapan yang berisi canda dan obrolan yang biasa saja namun entah kenapa memberikan getaran hebat di dadaku. Aku rasa saat itu aku menjatuhkan nyamanku padamu.
Kini, tak ada lagi sapaanmu saat mentari menampakkan dirinya. Tak ada lagi kalimat pengantar tidur darimu, karena aku dan kamu takkan pernah menjadi kita. Kamu, memutuskan untuk memilih jalan lain bersama oranglain.
Aku memang sudah sampai pada titik selesai menjadi penawar rasa sakitmu, namun masihkah boleh aku merindukanmu sekali lagi? Mengenang segala hal manis kala aku dan kamu hampir menjadi kita. Masihkan boleh aku tersenyum mengingat semua yg kau lakukan hingga mampu menggeser posisi orang yg pernah aku cintai begitu dalam? Izinkan aku mengenang dan merindumu malam ini, karna setelah ini aku akan membiarkan semua yg pernah terjadi antara kamu an aku yg hampir menjadi kita bias bersama lelapnya tidurku nanti. Semoga berbahagia bersama jalan dan teman yg kau pilih untuk di sisimu.
Jumat, 13 Februari 2015
patah lagi....
aku pernah mencintai begitu lama, aku pernah menyayangi begitu dalam. sampai akhirnya rasa itu dipaksa pergi, karna dia yang ku sayang memilih pergi namun membawa separuh rasa ini.
aku sempat tak ingin lagi memberikan hatiku, aku takut terlalu dalam kemudian dihancurkan lagi. aku rapuh.....
namun, pertemuanku denganmu membuat segala ketakutanku sirna dalam sekejap. kau selalu memiliki cara membuatku tersenyum, atau betah berlama-lama terhubung denganmu walaupun hanya melalui telefon. aku betah membagi fokusku hanya demi tak mau membuatmu menunggu balasan blackberry messenger ku. aku tak pernah ingin beranjak tidur dan terlelap, selama dirimu masih terjaga, kau tau? aku sesungguhnya sangat ingin istirahat karena seharian ini penat. tapi bersamamu, aku mampu menahan penat dan hasratku ingin istirahat, karna kamu adalah salah satu sumber energiku.
saat bersamamu kita saling tahu, bahwa cuaca saat itu sangat panas, membuat semua ingin marah. tapi entah, saat denganmu semua beku.
aku sadar, aku mulai menepis ketakutan akan jatuh dan menyayangi, namun kau pergi saat aku sedang memulai. apa kau sudah tak ingin berbagi canda dan tawa melalui telfon seperti dulu? apa kau sudah bosan berbalas chat denganku seperti saat itu?
aku bagaikan patahan kayu, belum sempat utuh diperbaiki namun sudah terjatuh kembali, dan remuk tanpa sisa. luka ini lebih menyakitiku, karena aku tau, saat kau membawa kepingan rasa itu, tak ada yg tersisa untukku. hanya sepi, dan sakit.
aku tau, aku pernah dalam mencinta, sebelum bertemu kamu, dan aku berhasil melewatinya. dan sekarangpun aku akan mampu melewatinya, aku akan jaga kenangan ini, bukan untuk menghambat jalanku ke depan, hanya sekedar untuk membuatku tersenyum kala pagi menyapaku.
tempat singgahmu
aku masih mengingat dengan jelas bagaimana senyummu saat terakhir kali kita berjumpa. aku mengingat itu, karena aku masih ingin menjadi tempat singgahmu.
aku tau, tak mungkin bagiku menjadi tempatmu berhenti, menjadi tujuanmu. namun tak mengapa jika aku hanya sebatas tempatmu singgah, aku akan membuatmu singgah lebih lama saat kamu berhenti padaku lagi. aku akan mencari jutaan cara agar membuatmu lupa akan tujuanmu, dan selalu ingin singgah padaku.
aku takkan berganti menjadi tujuan, jika memang kamu tetap ingin menjadikanku persinggahan saat kau dihempas kehampaan.
tak mengapa bagiku jika memang harus begitu, karena perihal mencinta harusnya memberi bukan? ya, aku memberikanmu tempat singgah yang nyaman, agar kau selalu menjadikanku tujuan untuk singgah. sampai kau mengerti, bahwa singgah adalah satu-satunya tujuanmu.
Jumat, 06 Februari 2015
segenggam Bintang
Jutaan kisah telah tercipta di dunia ini. aku tak pernah terfikir akan memiliki kisah sedalam ini dengan kamu, kamu dan banyak lagi kamu dalam hidupku ini.
aku tak pernah terfikir, bahwa denganmu segala kekangan dunia terhempas dan melebur dalam tawa bersama. aku tak pernah terfikir, bahwa setiap detik bersamamu akan menjadi kenangan yang aku rindukan nanti, bahkan detik ini aku mulai merindukan tawa dan canda itu. aku rindu saat kita tertawa seperti segerombolan anak-anak yang mendapatkan segenggam cokelat secara cuma-cuma. aku mulai merindukan saat dimana yang seadanya, namun berarti segalanya saat kita bersama.
kita sudah sampai di penghujung pencapaian kita, aku mulai sadar bahwa kini semua mulai terbungkus menjadi kenangan yg perlahan akan aku rindukan keberadaannya.
kita takkan mungkin memutar kembali semua hal indah itu, namun bisakah aku meminta bahwa kita akan tetap menjadi kita sampai batas waktu yg tak dapat ditentukan? meskipun kebersamaan itu takkan mampu lagi aku dapatkan di setiap hariku. dapatkah kita tetap menjaga keutuhan ini? bisakah kita tetap menjadi hangat, meskipun benteng jarak dan kesibukan memisahkan kita yang dulunya sedekat nadi?
perlahan namun pasti, jalan yg kita ambil semakin membuat raga tak mampu berdampingan lagi. namun, aku tau kini kau adalah bintang yg selama ini aku cari. Bintang yg jauh disana, namun kita akan mampu memandang satu sama lain, Bintang yg keberadaannya menjadi sangat berarti kala gelap menyapa, menjadi penerang walau tak semegah mentari.
J!
Sebuah gambar mengingatkanku kepadamu, gambar dimana aku pertama kali dibawa olehmu ke dalam hidup yang sesungguhnya.
samar aku melihat tujuanku dalam hidup, sampai aku menemukanmu dalam samarku. aku tau, kita tak pernah mengungkapkan ini satu sama lain, perasaan yang akrab dengan sapaan "sayang". yang aku tau, berbagi suka, duka, tawa serta airmata denganmu adalah sayang yang takkan pernah diungkapkan, namun nyata dan menembus dalam ingatanku.
aku pernah mencoba mengungkapkan rasa ini padamu, namun yang ku terima tawa darimu. ya aku tau, kaupun sama. hanya saja kau tak sepertiku, kau adalah sosok individu pemendam rasa. dan yg ku tahu, pemendam rasa memiliki rasa yang lebih dalam dibandingkan aku yang pengungkap.
J! itulah kamu, salah satu tangan Tuhan yang dikirimkan kepadaku sebagai wujud kasih Tuhan kepadaku, gadis lemah yang mudah hilang arah. kamu datang sebagai penunjuk jalan, saat aku mulai merasa tersesat. aku adalah mobil, dan kau rambu yang ada dalam lintasan, mengingatkan, penunjuk jalan, agar mobil dapat sampai ke tempat tujuannya.
terima kasih J, untuk datang dan aku harap tak pernah pergi dari sisiku yg lemah ini.
samar aku melihat tujuanku dalam hidup, sampai aku menemukanmu dalam samarku. aku tau, kita tak pernah mengungkapkan ini satu sama lain, perasaan yang akrab dengan sapaan "sayang". yang aku tau, berbagi suka, duka, tawa serta airmata denganmu adalah sayang yang takkan pernah diungkapkan, namun nyata dan menembus dalam ingatanku.
aku pernah mencoba mengungkapkan rasa ini padamu, namun yang ku terima tawa darimu. ya aku tau, kaupun sama. hanya saja kau tak sepertiku, kau adalah sosok individu pemendam rasa. dan yg ku tahu, pemendam rasa memiliki rasa yang lebih dalam dibandingkan aku yang pengungkap.
J! itulah kamu, salah satu tangan Tuhan yang dikirimkan kepadaku sebagai wujud kasih Tuhan kepadaku, gadis lemah yang mudah hilang arah. kamu datang sebagai penunjuk jalan, saat aku mulai merasa tersesat. aku adalah mobil, dan kau rambu yang ada dalam lintasan, mengingatkan, penunjuk jalan, agar mobil dapat sampai ke tempat tujuannya.
terima kasih J, untuk datang dan aku harap tak pernah pergi dari sisiku yg lemah ini.
Selasa, 03 Februari 2015
ampas kopi
aku adalah senja, namun kini aku membenci senja. Senja tak semegah kemarin, mungkin karena ada hati yang dipatahkan dan senja menjadi gelap, murung, abu-abu, tak berwarna.
kau adalah kopi yang ku nikmati senja itu, mendebarkanku, namun menyisakan ampas di hatiku.
ku teguk secangkir kopi dan ku nikmati kafein yang membuat jantung ini berdebar hebat, aku sudah lupa bagaimana jatung ini berdebar hebat, yang ku ingat debaran itu terhenti saat kau meninggalkanku tanpa sedikitpun memberiku kesempatan menahanmu.
secangkir kopi ini membantuku mendebarkan kembali jantungku, membawa rindu-rindu yang telah lama terendap bagaikan ampas dalam secangkir kopi ini, kau tahu sepedih apa rindu kepada seseorang yang tak sedikitpun merindukan hadirmu? mungkin hanya ampas ini yang mampu menjelaskan, ampas tak sekalipun tersentuh penikmat sang kopi, dibiarkan melekat erat pada cangkir, dipaksa memudar namun masih menyisakan butiran noda yang melekat dengan hebat.
ya, aku membuang rindu itu seperti ampas kopi dalam cangkir, namun rindu tetaplah rindu yang memberikan sebuah noda yang takkan pernah hilang dengan sempurna.
kau adalah kopi yang ku nikmati senja itu, mendebarkanku, namun menyisakan ampas di hatiku.
siang tadi
seorang gadis termenung di sudut cafe itu, gadis yang baru saja ditinggalkan kekasihnya. tanpa sadar airmata terjatuh tanpa ampun dari pelupuk matanya. pedih tak berkesudahan, sejak kepergian pencuri sebagian hatinya siang tadi.
sayang, aku akan selalu seperti ini kala kita berpisah, bukan karna aku tak ingin kamu kembali kesana, hanya saja aku takkan siap menghadapi rindu yang membuat aku perih, dan menjadikanku pecandu perih itu. sendirian......
bukan aku tak percaya saat kau jauh, hanya saja aku tak ingin melewati sebuah kisah dalam hidupku bertemankan kerinduan dan khayalanmu di sisiku.
aku akan terus menunggumu dalam rindu, menunggu hingga aku dan kamu menjadi kita kembali,, berjanjilah menghapus airmata ini dengan jemari-jemarimu, seperti siang tadi.....
Langganan:
Komentar (Atom)